Sekolah Bangun Prestasi , Media Sibuk Membesarkan Hal Receh

ACEH, HUKUM, Mahasiswa22 Dilihat

Kuta Makmur – Himpunan Mahasiswa Kuta Makmur (HIMAKMUR) melakukan silaturahmi dan wawancara langsung dengan Kepala SMA Negeri 1 Kuta Makmur, Dr. Nurmaida, S.Pd., M.Pd., pada 16 Mei 2026 guna mendengar secara langsung fakta terkait pemberitaan dugaan pelaksanaan acara wisuda  siswa kelas XII yang sempat menjadi perhatian publik beberapa waktu lalu.

Dalam keterangannya, kepala sekolah mengaku sangat menyayangkan Judul pemberitaan yang menurutnya tidak menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan. Ia menilai perhatian media lebih banyak diarahkan pada judul surat edaran dari pada memahami isi surat edaran. Di point 2 surat edaran Kadisdik Aceh, dapat dipahami bahwa, tidak ada larangan seremonial ataupun pelepasan selama tidak  membebani pembiayaan ke murid atau orangtua.

Faktanya di lapangan tidak ada kutipan apapun yang membebani siswa ataupun orang tua. Juga  dapat dilihat dari bukti-bukti video yang beredar tidak ada seremonial yang berlebihan.

“Mestinya sekelas MODUSACEH.CO yang sudah  terkenal, mampu membaca aturan secara keseluruhan, bukan sepenggal judulnya saja, harus dipahami dalam konteks keseluruhan, bagaimana budaya sekolah dan  psikologi siswa. Bukan hanya memberitakan  hingga merugikan instansi orang lain”  Tegasnya

“Kami selama ini terus berupaya membangun sekolah menjadi lebih baik, baik dari sisi pendidikan maupun prestasi siswa. Namun yang disorot justru hal-hal yang tidak substansial,”.  Tambahnya.

Lebih lanjut, Ia menjelaskan, sebelum pelepasan itu di laksanakan,  pihak sekolah mengumpulkan seluruh siswa kelas XII untuk menyampaikan isi edaran tersebut,  dan menjelaskan bahwa tidak ada acara mewah baik dari dekorasi maupun pakain, siswa di tegas kan untuk memgunakan baju sekolah, agar tidak terkesan mewah.

Menurutnya, kegiatan yang dilakukan hanya berupa peusijuk dan pelepasan sederhana sebagai bentuk penghormatan kepada siswa kelas XII yang telah menyelesaikan pendidikan. Sehari sebelum kegiatan berlangsung, para siswa juga melaksanakan penanaman pohon di lingkungan sekolah sebagai bentuk kenang-kenangan sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.

Dalam kegiatan pelepasan tersebut, sekolah hanya menyediakan fasilitas sederhana berupa spanduk, tenda, dan terpal sebagai tempat duduk siswa agar terlindung dari panas matahari.

“ Panggung kami pakai apa yang sudah ada, tinggal  dihias ala kadar oleh guru-guru dan OSIS. Acara pun hanya diisi penampilan seni siswa yang sudah dilatih di program ekstrakurikuler seperti drumband, tarian yang kami tampilkan saat ikut FLS3N, tanpa hiburan mewah maupun kegiatan yang bersifat hura-hura” : Kata Riski Aulia ( Perwakilan Osis SMAN1 Kuta Makmur).

Kepala sekolah turut mengungkapkan bahwa dampak pemberitaan tersebut dirasakan langsung oleh para siswa. Banyak siswa mengaku kecewa karena merasa telah mematuhi seluruh ketentuan dalam edaran Dinas Pendidikan Aceh maupun aturan yang ditetapkan sekolah, namun tetap dianggap melakukan pelanggaran. Menurutnya, para siswa hanya ingin menikmati momen pelepasan sederhana bersama teman-teman setelah menempuh perjuangan pendidikan selama tiga tahun.

Ia menilai pemberitaan seharusnya didasarkan pada verifikasi langsung di lapangan, bukan asumsi ataupun dugaan sepihak. Menurutnya, institusi pendidikan bukanlah ruang yang layak dijadikan objek pemberitaan tanpa kehati-hatian dan keseimbangan informasi. Dampak psikologis dari pemberitaan tersebut, kata dia, justru dirasakan oleh siswa SMAN 1 Kuta Makmur  yang menjadi korban suasana gaduh di media sosial akibat munculnya opini negatif terhadap sekolah mereka.

“Waktu yang seharusnya mereka gunakan untuk belajar dan mempersiapkan masa depan justru tersita untuk menghadapi kegaduhan akibat pemberitaan yang tidak berimbang,” Tambah Kepala Sekolah.

Selain itu, kepala sekolah menyampaikan bahwa dirinya telah memberikan tanggapan dan penjelasan kepada wartawan melalui pesan WhatsApp saat dimintai keterangan terkait persoalan tersebut. Kepala sekolah melayani semua pertanyaannya sampai akhir dan terbukti tidak melanggar, tetapi tetap diberitakan dengan Judul yang menggiring opini negatif tentang sekolah,  Judul dan isi berita yang disajikan tidak berimbang

Ia menilai kondisi tersebut menyebabkan informasi yang disampaikan kepada publik tidak sepenuhnya menggambarkan fakta di lapangan dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pemberitaan yang dinilai tidak berimbang tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi citra sekolah yang saat ini sedang berkembang dan terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan di wilayah Kuta Makmur.

Di akhir keterangannya, kepala sekolah berharap seluruh pihak dapat lebih bijak dalam menyampaikan informasi kepada publik serta mengedepankan prinsip jurnalistik yang objektif, faktual, dan berimbang agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

“Publik sekarang tidak sebodoh itu. Mereka bisa membedakan mana kritik yang lahir dari kepedulian dan mana framing yang sengaja dipoles demi menjadikan isu kecil terlihat meledak.

“(Kamoe ureung buloh hana bangai. Kamoe jeut membedakan teuh kritik yang lahé dari kepedulian dan teuh framing yang sengaja i poles keu di peuget masalah ubet jeut keu masalah rayeuk).” tegas Ketua Umum Himakmur, Maulana Fikri Saputra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar