MBG Investasi Penting Menuju Indonesia Emas, Namun Wacana Kantin Sekolah Kelola Dapur MBG Dinilai Tidak Tepat Sasaran

ACEH, EKONOMI, NASIONAL, News21 Dilihat

Tgk Wasly, Tokoh masyarakat Aceh Utara menilai wacana kantin sekolah kelola dapur MBG tidak tepat sasaran.Wacana Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) untuk melibatkan kantin sekolah dalam pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG), mendapat perhatian dari banyak pihak di Aceh.

Tgk Wasly, salah satu tokoh masyarakat dan pengusaha Peci Tanah Rencong di Teupin Punti, Syamtalira Aron, Aceh Utara mengatakan, wacana untuk menjadikan kantin untuk mengelola dapur MBG, nantinya akan menggeser fungsi utama sekolah sebagai lembaga pendidikan, dan juga menambah beban sekolah.

“Fungsi utama sekolah ya untuk proses pendidikan, jika kantin ditugaskan mengelola dapur tentu saja akan muncul masalah lain di kemudian hari.” Ucap Tgk Wasly kepada asoetanyoaceh.com, Jum’at (11/9/2026) sore.

Tgk Wasly menambahkan, wacana tersebut akan berimbas pada tugas guru. Beliau mengkhawatirkan, nantinya jika hal ini terealisasi, tugas pokok guru yang sebelumnya hanya mendidik siswa akan bertambah untuk mengurusi makanan, distribusi, dan ragam persoalan teknis lainnya di dapur MBG. Dikhawatirkan, fungsi utama sekolah sebagai tempat memberikan dan membentuk karakter penerus bangsa akan terganggu, jika dibebankan untuk mengurus dapur.

“Kita khawatir, nanti beban para guru akan bertambah jika kantin sekolah mengelola dapur MBG, jika itu terjadi proses belajar mengajar pasti terganggu, tentu saja akan berdampak pada kualitas mutu layanan pendidikan.” ucapnya.

Berbagai potensi masalah yang dicemaskan akan muncul kemudian hari, Tgk Wasly berharap agar pengelolaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dijalankan seperti saat ini, yaitu dipusatkan di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

MBG Sebagai Investasi Masa Depan Bangsa

Dalam kesempatan yang sama, Tgk Wasly menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan bentuk investasi besar bagi pertumbuhan bangsa Indonesia. Hal ini adalah upaya strategis upaya strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah.

“Program ini tidak hanya dipandang sebagai pemberian makanan secara cuma-cuma, tetapi sebagai bentuk investasi jangka panjang untuk membangun generasi Indonesia yang lebih sehat, cerdas, produktif, dan mampu bersaing di masa depan.” kata Pengusaha Peci Tanah Rencong Tersebut.

Pemenuhan gizi yang baik berkaitan sangat erat dengan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan belajar, serta kesehatan. Anak yang memperoleh asupan gizi secara cukup memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh dan berkembang optimal. Kehadiran MBG di sekolah diharapkan dapat membantu mengurangi kesenjangan pemenuhan gizi sekaligus mendukung terciptanya lingkungan belajar yang lebih sehat.

Program MBG juga memiliki dampak yang lebih luas, khususnya bagi pertumbuhan sektor ekonomi lokal, mulai dari petani, peternak, nelayan, pelaku usaha mikro, koperasi, hingga penyedia jasa pengolahan makanan. Dengan memanfaatkan bahan pangan yang berasal dari daerah setempat, program ini berpotensi menyerap produk pertanian dan pangan lokal.

Di sisi lain, Tgk Wasly berpendapat bahwa program skala nasional ini harus dijalankan dengan tata kelola yang kuat. Mulai dari pengawasan kualitas bahan pangan, keamanan makanan, serta kebersihan dapur, kecukupan kandungan gizi, ketepatan distribusi, serta pengawasan penggunaan anggaran harus menjadi perhatian utama.

“Program sebesar MBG harus dilaksanakan secara transparan, terukur, dan berkelanjutan agar tujuan peningkatan kualitas gizi benar-benar tercapai. Evaluasi berkala juga diperlukan, untuk mengetahui efektivitas program dan memperbaiki berbagai kekurangan yang ditemukan di lapangan.” ujar Tgk Wasly.

“Keberhasilan MBG pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak makanan yang dibagikan, tetapi seberapa besar dampaknya terhadap kesehatan, pendidikan, dan kualitas kehidupan masyarakat. Makanan yang diberikan harus memenuhi prinsip gizi seimbang, aman dikonsumsi, sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat, serta mempertimbangkan potensi dan kearifan pangan lokal.” tambahnya.

Apabila dirancang dan dilaksanakan dengan baik, program ini bukan sekadar program bantuan makanan, melainkan sebuah kebijakan pembangunan yang menghubungkan sektor kesehatan, pendidikan, pertanian, ekonomi lokal, dan pembangunan sumber daya manusia.

Karena investasi terbaik bagi sebuah bangsa adalah investasi pada manusianya. Melalui pemenuhan gizi yang baik sejak usia dini, Indonesia memiliki peluang untuk melahirkan generasi yang lebih sehat, memiliki kemampuan belajar yang lebih baik, produktif, dan siap menghadapi tantangan global. Karena itu, Program Makan Bergizi Gratis harus dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk mewujudkan Indonesia yang sehat, maju, mandiri, dan berdaya saing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *