Banda Aceh–Forum Komunikasi Mahasiswa (FKM) Pasee Aceh mendukung langkah Pemerintah Aceh yang meminta agar pengembangan dan pengolahan Gas South Andaman dilakukan di Aceh, khususnya melalui pemanfaatan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun, guna memastikan manfaat ekonomi dan sosial dari proyek strategis tersebut dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Aceh.
Dukungan tersebut disampaikan menyusul surat yang telah dikirimkan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait pengembangan cadangan gas South Andaman yang saat ini menjadi salah satu temuan energi terbesar di Indonesia.
Presiden FKM Pasee Aceh, Khussyairi, menilai bahwa momentum pengembangan Gas South Andaman harus menjadi titik balik kebangkitan ekonomi Aceh setelah puluhan tahun menjadi daerah penghasil sumber daya alam yang belum sepenuhnya menikmati manfaat dari kekayaan alamnya sendiri.
Menurutnya, pengolahan gas di Aceh merupakan langkah yang sejalan dengan semangat Nota Kesepahaman Helsinki (MoU Helsinki) dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA). Pasal 160 UUPA menegaskan bahwa pengelolaan sumber daya alam minyak dan gas bumi dilakukan secara bersama antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh.
“Rakyat Aceh tidak meminta belas kasihan. Rakyat Aceh hanya meminta keadilan atas hak yang telah dijamin oleh peraturan perundang-undangan dan semangat perdamaian yang telah dibangun bersama,” ujar Khussyairi.
Ia menegaskan bahwa pembangunan fasilitas pengolahan gas di KEK Arun akan memberikan dampak berantai yang signifikan bagi Aceh, mulai dari penciptaan lapangan kerja, peningkatan investasi, penguatan industri hilir, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia lokal.
FKM Pasee Aceh menilai bahwa KEK Arun memiliki infrastruktur dan nilai historis yang kuat sebagai kawasan industri energi. Oleh karena itu, keberadaan proyek South Andaman harus menjadi peluang untuk menghidupkan kembali pusat pertumbuhan ekonomi Aceh yang berbasis pada pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Khussyairi juga mengingatkan bahwa pengelolaan South Andaman tidak boleh hanya berorientasi pada produksi dan distribusi energi semata, tetapi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Aceh sebagai daerah yang memiliki keterkaitan langsung dengan wilayah operasi proyek tersebut.
“Generasi muda Aceh tidak boleh hanya menjadi penonton. Mereka harus menjadi bagian dari pembangunan sebagai tenaga ahli, insinyur, pekerja profesional, pelaku usaha, dan aktor utama dalam pertumbuhan ekonomi yang lahir dari sumber daya alam Aceh sendiri,” katanya.
Lebih lanjut, FKM Pasee Aceh menegaskan dukungannya terhadap investasi dan pembangunan nasional, namun menilai bahwa keberhasilan proyek Gas South Andaman harus diukur dari besarnya manfaat yang diterima masyarakat Aceh melalui peningkatan kesejahteraan, kesempatan kerja, pembangunan industri, dan pertumbuhan ekonomi daerah.
“Gas South Andaman harus menjadi lembaran baru kebangkitan Aceh. Ini bukan perjuangan satu kelompok atau satu lembaga, melainkan kepentingan bersama seluruh rakyat Aceh agar kekayaan alam yang dimiliki benar-benar menjadi instrumen kesejahteraan bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang,” tutup Khussyairi.





