Alee Tunjang, Alunan Ketukan Buloh di Milad Samudra Pasai ke-800

ACEH, News39 Dilihat

ACEH UTARA— Alunan ketukan alat musik tradisional Alee Tunjang turut memeriahkan rangkaian Milad Samudra Pasai ke-800 yang digelar di Kabupaten Aceh Utara, Jumat malam, 11 September 2026.

Alee Tunjang merupakan alat musik tradisional asli dari Buloh, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara. Kesenian ini menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Buloh yang telah diwariskan secara turun-temurun dan hingga kini masih terus dimainkan serta dilestarikan oleh masyarakat.

Penampilan Alee Tunjang dalam momentum Milad Samudra Pasai ke-800 menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali kekayaan budaya lokal kepada masyarakat luas. Ketukan yang dihasilkan dari permainan sejumlah lesung dan *alee* tersebut tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membawa identitas budaya masyarakat Buloh yang diwariskan secara turun-temurun.

Dalam tradisi masyarakat Buloh, Alee Tunjang memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Kesenian ini diyakini telah berkembang sejak masa kerajaan yang pernah berkuasa di Aceh dan terus diwariskan oleh masyarakat hingga saat ini.

Camat Kuta Makmur, Hanifza Putra, S.STP., M.Si., menyampaikan bahwa penampilan Alee Tunjang pada Milad Samudra Pasai ke-800 menjadi momentum untuk memperkenalkan potensi budaya Kuta Makmur kepada masyarakat yang lebih luas.

“Alee Tunjang bukan hanya sebuah permainan tradisional, tetapi merupakan bagian dari identitas dan warisan budaya masyarakat Kuta Makmur. Kami berharap keberadaannya terus dijaga dan generasi muda dapat mengenal, mempelajari, serta melestarikannya,” ujar Hanifza Putra.

Sementara itu, Direktur Masyara Institute, Fauzi Syam, menilai pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui dokumentasi, tetapi harus diwujudkan dengan memberikan ruang bagi tradisi untuk tetap hidup dan dimainkan di tengah masyarakat.

“Alee Tunjang memperlihatkan bahwa budaya lokal masih memiliki ruang di tengah perkembangan zaman. Ketika kesenian ini dimainkan dalam momentum Milad Samudra Pasai ke-800, masyarakat tidak hanya menyaksikan sebuah pertunjukan, tetapi juga melihat kembali identitas dan ingatan budaya yang hidup di Buloh,” kata Fauzi Syam.

Menurutnya, keberadaan Alee Tunjang juga menunjukkan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga kesenian tradisional agar tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.

Ketua Umum HIMAKMUR, Maulana Fikri Saputra, menyebut keterlibatan generasi muda dalam pelestarian Alee Tunjang merupakan bagian penting dari keberlanjutan budaya Kuta Makmur

Kami ingin Alee Tunjang tidak hanya dikenal oleh masyarakat Buloh, tetapi juga dikenal oleh masyarakat Aceh secara lebih luas. Generasi muda harus mengambil peran agar kesenian ini tidak hilang ditelan zaman. Menjaga Alee Tunjang berarti menjaga salah satu bagian dari identitas masyarakat Kuta Makmur,” ujarnya.

Alee Tunjang dimainkan secara berkelompok menggunakan sejumlah lesung dan alee yang menghasilkan pola ketukan khas. Secara tradisional, lesung umumnya dibuat dari kayu pohon nangka, sedangkan alee menggunakan pelepah pohon aren. Perpaduan ketukan dari alat tersebut menghasilkan bunyi khas yang menjadii identitas permainan Alee Tunjang.

Dalam perkembangannya, Alee Tunjang tidak hanya menjadi bagian dari aktivitas masyarakat, tetapi juga hadir dalam berbagai kegiatan budaya dan perayaan masyarakat. Kesenian tersebut menjadi salah satu cara masyarakat mempertahankan hubungan dengan tradisi yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

Penampilan Alee Tunjang pada rangkaian Milad Samudra Pasai ke-800 di Aceh Utara menjadi kesempatan untuk mempertemukan sejarah, budaya, dan generasi masa kini. Di tengah perayaan yang mengangkat kembali kejayaan sejarah Samudra Pasai, ketukan Alee Tunjang dari Buloh turut membawa pesan bahwa kekayaan budaya Aceh tidak hanya tersimpan dalam peninggalan masa lalu, tetapi juga hidup melalui tradisi masyarakat yang masih dipertahankan hingga hari ini.

Dari Buloh, ketukan Alee Tunjang kembali terdengar. Bukan sekadar bunyi dari kayu dan pelepah aren, tetapi suara sebuah tradisi yang terus berusaha bertahan di tengah perubahan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *