Aceh Tengah — Praktik penjualan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax secara enceran dengan harga tinggi di Kabupaten Aceh Tengah dinilai merugikan masyarakat, khususnya kalangan rakyat kecil yang bergantung pada BBM untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Di sejumlah titik, BBM dijual dalam botol maupun jeriken dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga resmi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Kondisi ini membuat masyarakat terpaksa membeli BBM dengan harga mahal demi memenuhi kebutuhan transportasi dan pekerjaan mereka.
Ketua Umum HIMA-ATE, Maulana Alvarisi, menilai bahwa kondisi ini tidak terlepas dari ulah oknum-oknum yang diduga melakukan penimbunan BBM demi keuntungan pribadi.
“Rakyat kecil kembali menjadi korban karena ulah oknum-oknum yang menimbun minyak BBM demi keuntungan pribadi. Kondisi ini sangat merugikan masyarakat yang sangat membutuhkan BBM untuk bekerja dan menjalankan aktivitas sehari-hari,” ujar Maulana Alvarisi.
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah bersama pihak terkait harus segera mengambil langkah tegas untuk mengatasi persoalan tersebut, termasuk melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap distribusi BBM di lapangan.
Selain itu, HIMA-ATE juga meminta agar aparat terkait menindak tegas pihak-pihak yang terbukti melakukan penimbunan maupun penjualan BBM dengan harga yang tidak wajar, sehingga masyarakat tidak terus menjadi korban dari praktik yang merugikan tersebut.










